Krisis Juara Bertahan: Liverpool Catat Kekalahan ke-10 Usai Takluk dari Brighton

Krisis Juara Bertahan: Liverpool Catat Kekalahan ke-10 Usai Takluk dari Brighton

Liverpool kembali menelan hasil negatif dalam upaya mereka mempertahankan eksistensi di papan atas Premier League. Bertandang ke Stadion Amex pada Sabtu malam, 21 Maret 2026, skuad asuhan Arne Slot dipaksa menyerah 1-2 oleh tuan rumah Brighton & Hove Albion. Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi “The Reds” karena menandai kekalahan kesepuluh mereka di kompetisi domestik musim 2025/2026.

Dalam laga pekan ke-31 tersebut, Danny Welbeck menjadi bintang lapangan dengan memborong dua gol kemenangan bagi The Seagulls. Liverpool hanya mampu memberikan perlawanan melalui satu gol balasan yang dicetak oleh Milos Kerkez, namun skor tersebut tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari kegagalan membawa pulang poin.

Rekor Terburuk dalam Satu Dekade

Statistik sepuluh kekalahan dalam semusim Liga Inggris merupakan pencapaian terburuk Liverpool sejak kampanye 2014/2015. Pada periode tersebut, performa buruk yang serupa berujung pada pemecatan manajer Brendan Rodgers sebelum akhirnya klub menunjuk Juergen Klopp sebagai suksesor.

Sebagai juara bertahan Premier League, catatan ini menempatkan Liverpool dalam daftar hitam klub peraih gelar yang mengalami penurunan performa paling drastis pada musim berikutnya. Inkonsistensi ini membuat Cody Gakpo dan kolega tertahan di urutan kelima klasemen sementara dengan koleksi 49 poin dari 31 pertandingan, sebuah posisi yang sangat rawan dalam persaingan memperebutkan tiket Liga Champions.

Pembelaan Arne Slot dan Faktor Kelelahan Eropa

Manajer Liverpool, Arne Slot, memberikan pembelaan terkait hasil minor yang terus membayangi timnya. Slot menyoroti jadwal padat yang memaksa anak asuhnya bertanding di kompetisi Eropa (Liga Champions) hanya beberapa hari sebelum laga kontra Brighton. Menurutnya, faktor kelelahan fisik dan mental menjadi penyebab utama hilangnya poin di laga-laga krusial.

“Sudah sangat jelas bahwa kami kehilangan banyak poin setiap kali usai bertanding di level Eropa. Saya telah mencoba menjelaskan fenomena ini berkali-kali,” ujar Slot sebagaimana dilaporkan oleh BBC. Meski demikian, pelatih asal Belanda tersebut tetap memberikan apresiasi kepada lawan yang tampil lebih dominan di paruh kedua. “Kita harus memberikan kredit bagi Brighton. Di babak kedua, mereka memang tampil sebagai tim yang lebih baik di lapangan.”

Ancaman di Sisa Musim

Dengan kompetisi yang menyisakan tujuh hingga delapan pertandingan lagi, Liverpool menghadapi tekanan besar untuk melakukan evaluasi total. Jika tidak segera bangkit, status mereka sebagai salah satu raksasa Inggris terancam goyah, terutama dengan para pesaing di bawahnya yang terus merapatkan jarak poin. Manajemen Liverpool kini dituntut untuk memastikan stabilitas tim agar tidak terlempar lebih jauh dari zona kompetisi elit Eropa musim depan.